PENGARUH KONSENTRASI ASAM SULFAT DAN WAKTU HIDROLISIS TERHADAP KADAR ETANOL LIMBAH SERAT RUMBIASAGU (Metroxylon Sp) DAN SERAT SAGU BARUK(Arenga microcarpa)

Sjamsiwarni R Sjarif

Abstract


Ampas sagu merupakan limbah yang dihasilkan dari pengolahan sagu terdiri dari serat-serat empelur, kaya akan karbohidrat dan bahan organik lainnya. Pemanfaatan limbah sagu masih terbatas dan biasanya dibuang begitu saja. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah serat sagu baruk dan sagu rumbia menjadi etanol dengan menggunakan metode deskriptif dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: tahap pertama persiapan bahan baku dengan pengeringan, penggilingan dan pengayakan 4 dan 40 mesh. Tahap kedua hidrolisis dengan asam sulfat 0,5 : 1,0 dan 1,5 N waktu hidrolisa 2, 3 dan 4 jam pada temperatur 121 °C dengan autoclave dan fermentasi dengan ragi roti 3% selama 24 jam. Tahap ketiga destilasi alkohol. Pengamatan terlebih dahulu dilakukan terhadap kadar karbohidrat dan kadar gula bahan baku serat sagu baruk dan sagu rumbia, volume larutan hasil hidrolisis, kadar gula larutan hasil hidrolisis, volume destilat(etanol) dan kadar etanol. Hasil uji bahan baku menunjukkan kadar karbohidrat serat/ampas sagu baruk berkisar antara 41,22-49,18% dan sagu rumbia 52,78-62,85%. Kandungan gula yakni 1,91-3,19% untuk serat/ampas sagu baruk dan 1,28-3,19% serat/ampas sagu rumbia. Hasil penelitian menunjukkan kadar gula tertinggi terdapat pada serat/ampas sagu rumbia dengan perlakuan penambahan asam sulfat 1,5 N dan waktu hidrolisis 3 jam yakni 13,90%. Kadar etanol tertinggi juga diperoleh pada hasil fermentasi serat sagu rumbia yang diperlakukan dengan penambahan asam sulfat 1,0 N dan waktu hirolisa 3 jam hidrolisis 13,60%. Limbah pengolahan pati sagu dari tanaman sagu (baruk dan rumbia) berupa serat/ampas dapat diolah menjadi etanol melalui proses hidrolisis asam sulfat konsentrasi rendah dengan pemanasan bertekanan.
Kata kunci : limbah serat sagu, etanol

Full Text:

PDF

References


Abner L M. Keragaan Industri Sagu Indonesia. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol. 8 No. 1 Juni 2002; 2002;

Haryanto B PP. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius; 1992.

Komaryati. S G. Prospek Bioetanol Sebagai Pengganti Minyak Tanah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. 2010.

Hisyam. Isolasi Selulosa Ampas Sagu dengan Delignifikasi Menggunakan Hidrogen Peroksida. Institut Pertanian Bogor; 2012.

Enny. K Artati. Konstanta Kecepatan Reaksi Sebagai Fungsi Suhu Pada Hidrolisa Selulosa dari Ampas Tebu dengan Katalisator Asam Sulfat. Ekuilibrium. 2010;Vol. 9 No (14129124).

Jeon BY et al. Development Of a Serial Bioreactor System For Direct Ethanol Production From Starch Using Aspergillus Niger and Saccharomyces Cerevisiae. Biotechnol Bioprocess Eng. 2007;Vol. 12:566–73.

Ramdja Fuadi D. Pengaruh Waktu, Temperatur dan Dosis H2SO4 Pada Hidrolisa Asam Terhadap Kadar Etanol Berbahan Baku Alang-Alang. J Tek. Vol. 17 No.

Fitriyana L. Analisis Kadar Bioetanol Hasil Fermentasi Dari Pati Sagu (Metroxylon sago) Asal Papua. Universitas Negeri Papua; 2009.

Hamelinck, CN VHG dan FA. Prospect For Ethanol From Lignocellulosic Biomass. Netherlands; 2005.

Daniel dkk. Pembuatan Bioetanol dari Ampas Sagu dengan Proses HidrolisaAsam dan Saccharomyces Cerevisiae. J Kim Unand. Volume 1 N.

Polii F F. Pengembangan Paket Teknologi Tepat Guna Etanol dari Limbah Pertanian Berlignoselulosa. Manado; 2009.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2017 Jurnal Penelitian Teknologi Industri

p-ISSN 2085-580X

e-ISSN 2614-4069 

Balai Riset dan Standardisasi Industri Manado

Jalan Diponegoro No. 21-23 Manado

pos-el: brsmanado@yahoo.com