Gambir (Uncaria gambir Roxb) Sebagai Pewarna Alam Kain Batik Sutera, Katun, dan Rayon

Sofyan Sofyan, Failisnur Failisnur

Abstract


Gambier (Uncaria gambir Roxb.) is one of main commodities in West Sumatra Province where most of the products are exported in raw gambier form. Many benefits that can be derived from gambier, but there is no diversify of this product. The research was aimed to use gambier as natural dyes in batik fabric and to see the quality of the batik that had been dyed. The study was conducted by varying the type of fabric (silk, cotton, and rayon) and the type of mordant or color fixer namely lime (CaO), alum (Al2(SO4)3), and ferous salt (FeSO4). The fabrics which had been dyed were tested color direction, color fastness of washing, light, rubbing, moreover acid and alkaline perspiration. The results showed that the color direction was brownish with different color darkness depending on the type of mordant used. The results of testing on color fastness were good to excellent averagely. In term of the type of fabric, from the three types of fabric used, silk gave the best result in terms of color fastness of washing and perspiration of acid and alkaline with average test results was good to excellent (scale 4-5). The use of different types of mordant had not given significant effect on testing of color fastness to light and rubbing.

ABSTRAK

Gambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan salah satu komoditi unggulan Provinsi Sumatera Barat dimana hampir sebagian besar produknya diekspor dalam bentuk gambir mentah. Sangat banyak manfaat yang dapat diperoleh dari gambir, namun belum ada hilirisasi produk ini di dalam negeri. Tujuan penelitian adalah menggunakan gambir sebagai pewarna alam pada kain batik dan melihat kualitas kain batik yang telah diwarnai. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan jenis kain (sutera, katun, dan rayon) dan jenis mordan atau pembangkit warna yaitu kapur (CaO), tawas (Al2(SO4)3), dan tunjung (FeSO4). Kain yang telah diwarnai dilakukan pengujian arah/beda warna, ketahanan luntur warna terhadap pencucian, sinar, gosokan, dan keringat asam dan basa. Hasil penelitian didapatkan warna ke arah kecokelatan dengan ketuaan warna yang berbeda-beda tergantung jenis mordan yang digunakan. Hasil pengujian ketahanan luntur warna rata-rata adalah baik sampai baik sekali. Bila ditinjau dari jenis kain, maka dari tiga jenis kain yang digunakan, kain sutera memberikan hasil terbaik dari segi ketahanan luntur warna terhadap pencucian, serta keringat asam dan basa dengan rata-rata hasil pengujian baik sampai baik sekali (skala 4-5). Penggunaan jenis mordan yang berbeda tidak memberikan pengaruh pada pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar dan gosokan.


Keywords


gambier; batik; silk; cotton; rayon

Full Text:

PDF (Indonesian)

References


Atika, V., Farida, dan Pujilestari, T. 2016. Kualitas pewarnaan ekstrak gambir pada batik sutera. Dinamika Kerajinan dan Batik. 33 (1): 25-32.

Atikasari, A. 2005. Kualitas tahan luntur warna batik cap di Griya Batik Larissa Pekalongan. Universitas Negeri Semarang Press. Semarang.

BPS Provinsi Sumatera Barat. 2015. Sumatera Barat dalam angka. Badan Pusat Statistik Sumatera Barat.

BSN. 2008. SNI 0288: 2008. Uji ketahanan luntur warna terhadap gosokan (nilai penodaan warna). Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

BSN. 2008. SNI 0521: 2008. Uji kekuatan sobek. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

BSN. 2010. SNI ISO 105-C 06: 2010. Uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40oC (perubahan dan penodaan warna). Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

BSN. 2010. SNI ISO 105-B01: 2010; Uji ketahanan luntur warna terhadap sinar terang hari. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

BSN. 2010. SNI ISO 105-E04: 2010; Uji ketahanan luntur warna terhadap keringat asam dan basa. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

Etherington, R. 2002. A Dictionary Of Descriptive Terminology: Vegetable Tannin.http://palimpsest. standart.edu./don/dt.3686.html. Diakses tanggal 4 Januari 2014.

Failisnur dan Sofyan. 2014. Sifat tahan luntur warna dan intensitas warna kain sutera dengan pewarna alam gambir (Uncaria gambir Roxb) pada kondisi pencelupan dan jenis fiksator yang berbeda. Jurnal Litbang Industri, 4 (1): 1-8.

Failisnur dan Sofyan. 2016. Pengaruh suhu dan lama pencelupan benang katun pada pewarnaan alami dengan ekstrak gambir (Uncaria gambir Roxb). Jurnal Litbang Industri, 6 (1): 25-37.

Failisnur, Sofyan, Kasim., A. 2016. Dyeing of cotton fabric with natural dye from gambier (Uncaria gambir Roxb.). 3rd. Natural pigments conference for South East Asia: 47-49.

Harborne, J. B. 1987. Metode fitokimia penuntun cara modern menganalisis tumbuhan, diterjemahkan oleh Padmawinata, K. ITB, Bandung.

Kasim, A. 2011. Proses produksi dan industri hilir gambir. Andalas University Press, Padang.

Kasmudjo dan Saktianggi, P. P. 2011. Pemanfaatan daun indigofera sebagai pewarna alami batik. bagian teknologi hasil hutan, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia (MAPEKI) XIV: 542-548.

Nazir, N. 2000. Gambir, budidaya, pengolahan dan prospek diversifikasinya. Yayasan Hutanku. Padang.

Prayitno, R. E., Wijana, S., dan Diyah, D. B. S. 2014. Pengaruh bahan fiksasi terhadap ketahanan luntur dan intensitas warna kain mori batik hasil pewarnaan daun alpukat (Persea americana Mill.). Jurusan Teknologi Industri Pertanian - Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya. Malang.

Pujilestari, T. 2014. Pengaruh ekstraksi zat warna alam dan fiksasi terhadap ketahanan luntur warna pada kain batik katun. Dinamika Kerajinan dan Batik, 31(1): 1-9.

Puntener, A and Page, C. 2004. European ban on certain Azo dyes, quality and environment. www.tfl.com.

Samanta, A. K. & Agarwal, P. 2009. Application of natural dyes on textiles. Indian Journal of Fibre & Textile Research, Vol. 34: 384-399.

Setyowati, W. A. E., Ariani, S. R. D., Ashadi, Mulyani, B., Rahmawati, C. P. 2014. Skrining fitokimia dan identifikasi komponen utama ekstrak metanol kulit durian (Durio zibethinus Murr.) varietas petruk. Prosiding seminar nasional kimia dan pendidikan kimia VI. FMIPA, FKIP, UNS, Surakarta.

Sofyan, Failisnur, Salmariza Sy. 2015. Pengaruh perlakuan limbah dan jenis mordan kapur, tawas, dan tunjung terhadap mutu pewarnaan kain sutera dan katun menggunakan limbah cair gambir (Uncaria gambir Roxb). Jurnal Litbang Industri, 5 (2): 79-89.

Sofyan, Failisnur, Salmariza Sy. 2012. Laporan penelitian peningkatan teknologi proses pencelupan kain sutera dengan memanfaatkan limbah cair gambir. Baristand Industri Padang.

Sofyan dan Failisnur. 2013. Laporan penelitian pengembangan gambir sebagai pewarna alami produk tekstil. Baristand Industri Padang.

Sofyan dan Failisnur. 2014. Laporan penelitian pengembangan pewarna alam gambir pada proses pembatikan. Baristand Industri Padang.

Suheryanto, D., & Haryanto, T. 2008. Pengaruh konsentrasi tawas terhadap ketuaan dan ketahanan luntur warna pada pencelupan ain sutera dengan zat warna gambir. Dinamika Kerajinan dan Batik, 25: 9-16.

Suheryanto, D. 2010. Optimalisasi celupan ekstrak daun mangga pada kain batik katun dengan iring kapur. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.

Yusmeiarti, Failisnur, Hermianti, W., Marjali, Syafruddin, D., dan Yurnita. 2007. Laporan penelitian stabilisasi dalam penyimpanan limbah pengolahan gambir sebagai pewarna tekstil. Baristand Industri Padang.




DOI: http://dx.doi.org/10.24960/jli.v6i2.1721.89-98

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2016 Sofyan Sofyan, Failisnur Failisnur


Our journal indexed by:




Copyright © Baristand Industri Padang, 2015. Powered By OJS

Theme design credited to MEV edited by JLI

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License