Penggunaan Larutan Ekstrak Etanol dari Temulawak Sebagai Fotosensitizer di Dalam Pemutihan (Pengelantangan) Pulp dengan Penyinaran Lampu

Arif Perdana

Abstract


ABSTRAK

Ekstrak etanol dari temulawak (Curcuma Xanthorriza) dapat digunakan sebagai fotosensitiser pada pemutihan pulp dengan penyinaran lampu, dimana pada pemutihan ini menghasilkan oksigen singlet yang mendegradasi lignin di dalam pulp (delignifikasi) sehingga kenaikan kecerahan pulp meningkat secara signifikan. Kenaikan kecerahan pulp yang didapatkan pada pemutihan dengan penyinaran lampu pada saat waktu pemutihan 60 menit dan menggunakan ekstrak etanol temulawak sebagai fotosensitizer sebesar 4,23 %. Pemutihan dengan tidak menggunakan lampu tidak dapat meningkatkan kecerahan pulp yang cukup signifikan karena tidak menghasilkan oksigen singlet. Hasil kenaikan kecerahan pulp yang didapatkan pada pemutihan ini adalah 2,36 % pada generator oksigen singlet ditutup, dan 3,28 % pada generator oksigen singlet tidak ditutup dan 2,75 % pada pemutihan dengan pengaliran oksigen langsung ke reaktor pemutihan. Penyebab kenaikan kecerahan pulp yang lebih besar pada pemutihan pulp dengan tidak menggunakan penyinaran lampu dan generator oksigen singlet tidak ditutup daripada pemutihan pulp dengan tidak disinari lampu dan generator oksigen singlet ditutup adalah adanya kemungkinan jumlah foton yang masuk ke dalam reaktor oksigen singlet pada pemutihan dengan tanpa lampu dan reaktor oksigen singlet tidak ditutup adalah lebih besar, sehingga kemungkinan elektron dari fotosensitizer tereksitasi dan terbentuknya oksigen singlet lebih besar. Sedangkan penyebab kenaikan kecerahan pulp yang lebih besar pada pengaliran oksigen langsung ke reaktor pemutihan lebih besar daripada pemutihan pulp tidak disinari lampu dan generator oksigen singlet ditutup adalah dikarenakan pada pemutihan tanpa lampu dan tidak ditutup, oksigen triplet yang mengoksidasi pulp tidak menuju langsung ke pulp, akan tetapi melewati terlebih dahulu larutan fotosensitizer. Jadi sebagian oksigen masih ada di dalam larutan fotosensitizer, dan apabila oksigen menuju ke pulp membutuhkan waktu yang lebih lama apabila dibandingkan dengan oksigen dialirkan secara langsung menuju pulp.    

Kata Kunci : pemutihan, pulp, oksigen singlet, kecerahan

ABSTRACT

Etanol extract from temulawak can used as fotosensitizer in  pulp bleaching with lamp irradiating, which is in this pulp bleaching obtained singlet oxygen. This singlet oxygen can degradate lignin in pulp so that pulp  brightness increase  significantly after pulp bleaching. The brightness increasing obtained in pulp bleaching with lamp irradiating with bleaching time 60 minute dan use etanol extract from temulawak as fotosensitizer which the  brightness increasing is 4,23 %. Non lamp irradiating bleaching pulp cant increase brightness significantly. Brightness increasing which is obtained in this bleaching is 2,36 % in singlet oxygen generator not closed and 3,28 % in singlet oxygen generator closed. In bleaching with direct addition oxygen in bleaching reactor obtain brightness increase equal to 2,75 %. The cause increase of brightness in non lamp irradiating bleaching pulp and singlet oxygen generator not closed more than non lamp irradiating bleaching pulp and singlet oxygen generator closed is the existence of probability amount of foton which come into reactor is more in non lamp irradiating bleaching pulp and singlet oxygen generator not closed, so that amount of excited electron from fotosensitizer and singlet oxygen formed larger. While the cause of increase of brightness in bleaching with direct addition oxygen in bleaching reaktor is larger than non lamp irradiating bleaching pulp and singlet oxygen generator closed is triplet oxygen which oxydize pulp indirectly go to bleching reactor, but pass fotosensitizer solution particularly. So there is some of oxygen still in fotosensistizer solution and if oxygen go to bleaching pulp require some time more than compared with direct addition oxygen in bleaching reactor.                              

 

Keywords : bleaching, singlet oxygen, pulp, brightness

Full Text:

PDF

References


Blum, L, (1996), ”The Production of Bleached Kraft Pulp”, Environmental Defence Fund, http://www.rfu.org/cacw/basic2KraftPulp.htm, (diakses tanggal 10 Oktober 2013)

Gorman, A.A. and Hamblett, I., (1994), ”Kurkumin-derived transients : a pulsed laser and pulse radiolysis study”, J.Photochem.Photobiol, 389-398

Grossweiner, L.I., (1997), “Singlet Oxygen : Generation and Properties”. www.photobiology.com/educational/len2/singox.html, (diakses tanggal 10 Oktober 2013)

Moore, J.W. and Pearson, K.P., (1980), ”Kinetics and Mechanism”, Edisi 3, John Wiley and Sons, New York.

Sjőstrőm, E, (1995), “ Kimia Kayu. Dasar – Dasar dan Penggunaan”, diterjemahkan oleh Harjono Sastrohamidjojo, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Yasni S., et al, (1994), “Identification of an Active Prinsciple in

Essential Oils and Hexane Soluble Fraction of Curcuma xanthorriza Roxb. Showing Triglyceride Lowering Action in Rats”, Unpad, Bandung




DOI: http://dx.doi.org/10.22322/dkb.v30i2.1153

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2013 Arif Perdana

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 Dinamika Kerajinan dan Batik : Majalah Ilmiah indexeed by :